Yogyakarta, 30 April 2026 — PLN Unit Induk Distribusi (UID) Yogyakarta melalui Universitas Gadjah Mada (UGM) hadirkan Edukasi Internasional Pengelolaan Madu dalam agenda bertajuk “International Community Service Program 2026: Education on Honey” pada Kamis (30/4). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Fakultas Farmasi UGM ini dihadiri setidaknya oleh 150 peserta baik melalui daring maupun luring.
Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi pengembangan Ekowisata Kedung Poh sebagai desa binaan PLN UID Yogyakarta, sekaligus sebagai wahana edukasi bagi akademisi tingkat internasional serta para penggiat budidaya lebah madu. Program ini menghadirkan kolaborasi antara akademisi, peneliti, praktisi, serta petani madu untuk meningkatkan pemahaman mengenai pengelolaan madu yang baik dan berkelanjutan.
Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr.rer.nat. apt. Nanang Fakhrudin, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman komprehensif mengenai proses menghasilkan madu berkualitas.
“Program ini menjadi sarana untuk mengetahui bagaimana madu yang baik dihasilkan dari lebah yang dibudidayakan secara tepat. Kedung Poh menjadi salah satu contoh nyata yang telah berhasil menerapkan praktik tersebut,” ujarnya.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, pada sesi siang hari para peserta juga berkesempatan melakukan site visit ke kawasan Ekowisata Kedung Poh. Dalam kunjungan tersebut, peserta dapat melihat secara langsung proses budidaya lebah madu yang dilakukan oleh para petani, mulai dari pengelolaan koloni hingga praktik panen madu yang baik dan berstandar.
Sejak tahun 2020, PLN UID Yogyakarta telah menetapkan Kedung Poh sebagai desa binaan melalui program TJSL. Dengan total anggaran sebesar Rp1,59 miliar, berbagai inisiatif pengembangan telah dilakukan, mulai dari peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan ekosistem budidaya lebah madu, hingga pengembangan kawasan menjadi destinasi ekowisata yang produktif dan berdaya saing.
General Manager PLN UID Yogyakarta, Deri Prasetio Utomo, menegaskan bahwa peran PLN tidak hanya sebatas penyedia layanan kelistrikan, tetapi juga berkontribusi dalam pembangunan sosial masyarakat. Melalui forum ini, diharapkan terjadi transfer pengetahuan, peningkatan kapasitas, serta penguatan jejaring kolaborasi lintas sektor.
“PLN tidak hanya tentang melayani kelistrikan, tetapi juga hadir melalui program TJSL untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pengembangan Ekowisata Kedung Poh adalah salah satu bukti komitmen kami dalam mendorong kemandirian dan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.
Deri juga menambahkan, bantuan yang diberikan secara bertahap selama ini juga mendorong masyarakat untuk berfikir kreatif dan maju. Pendampingan dari akademisi UGM selama bantuan diberikan, memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan hasil panen maupun perkembangan Kedung Poh menjadi Ekowisata dan Eduwisata yang menarik di Provinsi DIY.
“Bahkan seperti menanam tanaman untuk pakan lebah pun diatur, seperti bunga tertentu mekar di bulan tertentu. Ini membuat lebah tidak pernah kehabisan makanan selama setahun penuh. Di sinilah peran akademisi dalam hal ini UGM, memberi dampak signifikan kepada pengetahuan petani, serta menyiapkan Kedung Poh dari Desa Penghasil Madu menjadi Ekowisata yang lebih terorganisir dan tertata”, jelas Deri.
Dengan sinergi antara PLN, akademisi, dan masyarakat, Ekowisata Kedung Poh diharapkan terus berkembang sebagai pusat edukasi dan pemberdayaan berbasis potensi lokal yang mampu memberikan dampak berkelanjutan, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga internasional.
